Pentingnya Jujur - edisi corona 1

Pentingnya Jujur - Edisi Corona 1

Oleh Nizar A K

21-22 maret 2020

Bismillah... 






"Terjebak" di rumah karena wabah Corona.. Begitulah kira-kira kondisi kami sekeluarga saat ini. Padahal saat cuti seperti ini biasanya adalah waktu untuk jalan-jalan dengan anak. Maklum, sebagai tukang batu yang kerja di luar pulau dan terikat dengan jadwal shift, penulis hanya bisa bertemu keluarga ketika masa cuti seperti sekarang. Karenanya ketika masa cuti seperti ini selama 2 minggu, biasanya kami maksimalkan untuk bayar "hutang" jalan-jalan. Ada plus minusnya juga kerja seperti ini. Minusnya tentu jarang bertemu keluarga secara langsung. Lebih sering ketemu kerjaan daripada keluarga hehe... Tapi sisi positifnya, bisa ngerasain libur panjang 2 minggu, bisa pilih tempat liburan selain hari weekend yang tentunya bebas dari populasi massa yang membludak di lokasi liburan.

Namun cuti kali ini sedikit berbeda.. ya karena wabah corona itu. Sekarang kami banyak diam di rumah saja. Menjaga jarak, begitulah instruksi dari bapak presiden. Bahkan sudah hampir satu minggu ini odometer mobil kami hanya terpakai sekitar 30 km saja hehe. Ada sisi positifnya juga sebenarnya, yaitu hemat bensin dan jadi jarang ke ATM hehe. Sering ke ATM adalah salah satu penyakit yang sepertinya banyak menjangkiti orang-orang dengan kerja shift seperti penulis. Ketika cuti, banyak maunya, banyak jajannya, banyak jalan-jalan.. tentu saja jadi sering ke ATM hehe. 

Alhamdulillah.. 'alaa kulli haal... begitulah kira-kira ungkapan syukur dari seorang muslim ketika menemui sesuatu yang kurang disukai. Intinya barangkali selalu ada celah untuk mensyukuri apapun yang terjadi meski dalam situasi yang kurang kita sukai. hehe

Kembali ke judul tulisan ini, "pentingnya jujur". Apa hubungannya dengan wabah Corona? Ya, sebenarnya tidak ada hubungan langsung. Hanya saja selama periode cuti ini penulis beberapa kali belanja online. Mulai dari software komputer sampai alat bikin kopi. Mungkin karena banyak diam di rumah itulah maka penulis jadi gatal terus main HP, browsing sana-sini, plus ditambah fasilitas m-banking maka lengkap sudah dorongan untuk belanja online hehe. 



Hasil belanja online hehe

Bicara soal belanja online, sebenarnya ini fenomena yang cukup menarik kalau mau direnungkan. Apa yang menarik? bagi penulis yang menarik adalah bagaimana bisa terjadi suatu transaksi tanpa ada pertemuan fisik antara penjual dan pembeli? Bahkan barang yang diperjualbelikan pun hanya disampaikan berupa foto. 

Jawabannya adalah... karena saling percaya. Penjual percaya bahwa pembeli akan membayar, dan pembeli percaya bahwa penjual akan mengirim barang. Itu saja, simpel kan. Bicara soal kepercayaan maka pasti terkait juga soal kejujuran. Kepercayaan akan ada bila didukung oleh kejujuran. Bila anda tidak jujur, maka anda akan tidak dipercaya. Bahasa kerennya anda tidak punya kredibilitas lagi. Entah sebagai penjual atau bahkan pembeli. Penjual yang tidak punya kredibilitas akan dicap sebagai penipu, sementara pembeli yang tidak punya kredibilitas biasanya dicap sebagai tukang PHP (pemberi harapan palsu) hehe. 






Ketika belanja online kadang kita perhatikan beberapa penjual yang menulis deskripsi kurang lebih "bila ada masalah jangan langsung kasih feedback negatif, kirim pesan saja dulu. Bila kasih feedback negatif maka tidak akan dilayani"

Hehe, kelihatan kejam ya, jualan tapi kok pake mengancam.. Ini menggambarkan pentingnya arti feedback positif atau rate bintang bagi seorang penjual online. Sekali namanya tercemar, maka mungkin sulit lagi untuk membangun reputasi. BIla statusnya sudah "pedagang besar" mungkin tidak terlalu masalah karena masih ada pelanggan lain, tapi buat yang masih merintis maka arti bintang itu sangat besar. Ibarat hidup mati toko hehe. Maklum, di dunia online persaingan sangat keras. Beda harga 10 ribu saja bisa buat ibu-ibu berpaling.. hehe. 

Di sisi lainnya, terkadang pembeli juga kelewat batas. Cari barang semurah-murahnya tapi ingin kualitas nomor 1. Jadilah juga pembeli yang bijak. Terkadang saya sering juga melihat beberapa pembeli yang bijak dalam memberikan komentar ulasan suatu produk seperti kurang lebih "barang diterima dengan baik, kualitas sesuai harga".. nah itu baru pembeli yang waras. hehe

Karenanya jagalah kredibilitas anda wahai para penjual dan pembeli dengan cara berlaku jujur.

Penulis sendiri punya pengalaman banyak belanja online, Alhamdulillah lancar saja sampai sekarang. Dari mulai menggunakan jasa pihak ketiga agar transaksi aman seperti tokped, bukalapak atau juga transaksi tanpa sistem pengaman transaksi seperti OLX tanpa COD. Modalnya ya itu saja, saling percaya..



Sekian tulisan kali ini

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Training a supervised deep-learning network for CT usually requires many expensive measurements. Because metallic components pose further challenges, getting the suitable coaching knowledge could be tough. Ziabari’s approach provides a leap ahead by generating sensible coaching knowledge with out requiring extensive experiments to covered plunger assemble it.

    BalasHapus