Pelajaran dari capeknya mengurus rumah

Pelajaran Dari Capeknya Mengurus Rumah 


Oleh Nizar A K

25 maret 2020

Bismillah.. 

pekerjaan rumah tangga



sumber merdeka.com


Lanjut nulis lagi..

Dapat kabar dari teman di lokasi kerja sana bahwa saya dikasih bonus cuti sampai 1 bulan. Ya terkait isu corona juga untuk mengurangi aktifitas karyawan yang keluar masuk site. Sebenarnya tidak bisa juga disebut bonus ya, karena cuti ini nanti sifatnya hutang. Jadi ya nanti hari kerja mesti ditambah untuk bayar cuti ini.

Lalu, mau apa kita sebulan ini? Kalau kondisi normal ya mungkin sudah jalan-jalan hehe. Tapi berhubung kondisi sedang wabah seperti ini, jadi ya diam saja di rumah. Paling sesekali keluar kalau ada perlu yang sangat penting, misal cari makanan hehe. Sekali lagi, Alhamdulillah,  beruntungnya orang seperti saya ini, meski cuti dan diam dirumah tapi gajian masih lancar. Sementara di luar sebagian masyarakat masih ada yang terpaksa mesti keluar rumah untuk bekerja karena penghasilannya masih harian. 

Sekalian numpang iklan, barangkali ada yang berminat untuk ikut membantu saudara-saudara kita di sana. Saya dapat dari pesan WA teman di rumah zakat





Libur di rumah artinya ya mengurus rumah. Dari mulai mengurus fisik rumah sampai juga mengurus anak-anak yang juga diliburkan oleh sekolahnya. Wah enak dong santai-santai di rumah... wah.. siapa bilang? Sebutan santai itu mungkin hanya bisa untuk yang sudah pensiun, yang anak-anaknya sudah pada mandiri, atau sudah jadi juragan kost-kostan yang tiap bulan tinggal nunggu uang bulanan hehehe.. Sementara ada juga di luar sana orang tua yang sampai tua pun masih harus banting tulang atau dikarunai cobaan punya anak yang masih merepotkan hingga dewasa. Karenanya, hiduplah yang benar dan lurus agar jangan sampai bikin orang tua repot ketika anda dewasa nanti. Itulah ujian hidup, senang ataupun susah tetaplah ujian. Yang mapan diuji dengan kemapanannya dan sederet pertanggungjawaban kelak di akhirat, sementara yang sulit hidupnya akan diuji perihal kesabarannya.

Allah SWT berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوْكُمْ بِا لشَّرِّ وَا لْخَيْرِ فِتْنَةً ۗ وَاِ لَيْنَا تُرْجَعُوْنَ
kullu nafsin zaaa`iqotul-mauut, wa nabluukum bisy-syarri wal-khoiri fitnah, wa ilainaa turja'uun

"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami."
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 35)

Kembali ke topik awal soal mengurus rumah..

Mengurus rumah dan segala aksesorisnya ternyata merepotkan juga, bahkan sebenarnya lebih cape daripada bekerja di luar rumah. Loh? 

Sebagai orang yang bekerja dengan sistem shift di pulau seberang sana, dengan jam kerja dan shift kerja yang sudah terjadwal maka ritme tubuh dapat menyesuaikan diri dengan mudah. Sebagai gambaran, penulis bangun pagi sekitar jam 4 pagi, dilanjutkan dengan ibadah shubuh dan mandi sampai kira-kira pukul 5.30 pagi. Setelahnya pergi menuju kantin untuk sarapan dengan pilihan makanan yang sudah disediakan. Sekitar jam 6 pagi lalu berangkat ke kantor untuk bekerja. Ketika bekerja pun, sesibuk apapun kita biasanya masih ada waktu untuk sekedar coffee break atau santai-santai di bawah pohon rindang sambil main HP hehe. Jam makan siang pun sudah rutin begitu juga dengan menu makan siang yang menurut penulis kadang lebih mewah daripada makanan di rumah. Kemudian lanjut bekerja hingga pukul 17.30. Setibanya di camp, kamar sudah  dibereskan oleh cleaning service. Selanjutnya tinggal sholat maghrib, mandi, makan malam di kantin, sholat isya lanjut kemudian istirahat atau santai-santai ngobrol dengan teman. Kalaupun ada pulang lembur juga sangat jarang. Semua serba teratur. Intinya kita yang menguasai keadaan, bukan sebaliknya.

Sementara bagaimana di rumah? pengalaman penulis, di rumah itu ternyata lebih repot dan melelahkan. Bangun pagi, membersihkan diri lalu menyiapkan makanan sendiri, membereskan rumah sendiri dll. Meskipun ada asisten rumah tangga, tetap saja ada pekerjaan tertentu yang kita sendiri harus turun tangan. Bagian terberatnya adalah ketika anak-anak yang lucu masuk ke dalam ritme kerja kita hehe.. Kita ingin ngopi santai, tiba-tiba ada yang menangis.. kita ingin makan santai, ada yang minta digendong.. Bahkan ketika kita ingin tidur, belum tentu si anak mau ikut tidur. Bila sedang di tempat kerja sana, penulis bisa bebas tidur kapan pun selama sudah ada di camp atau ketika jam istirahat. Tapi ketika di rumah, penulis hanya bisa tidur ketika anak-anak sudah tidur.. hehe. Intinya kalau di rumah terkadang kita dikuasai keadaan.

Apa maksud penulis bercerita tentang hal di atas? untuk mengeluh? sedih karena punya anak dan lebih baik hidup bujangan? hehe bukan mas.. bukan..

Penulis hanya ingin mengingatkan kalian wahai bapak-bapak yang terkadang merasa sudah paling berjasa dalam kehidupan rumah tangga karena sudah mengirim duit tiap bulan, bahwa pekerjaan istri di rumah pun tidak kalah beratnya apalagi ditambah tugas mengurus dan mendidik anak. Bahkan bagi penulis pribadi, di rumah itu lebih melelahkan secara fisik dan mental daripada di kantor. Karena itu, bantulah pekerjaan dan berbuat baiklah kita kepada istri kita. Kurangi main HP hehe.

hadits membantu istri


sumber pagarbawean.com

Posting Komentar

0 Komentar